Kakek Nenek Hebat

Senin, 26/01/21
Oleh : Amha

Ada sepasang nenek kakek yang sewaktu mudanya tinggal di jakarta. Sekitar tahun 1995 memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. 

Awalnya sih masih tetap bolak balik ke Jakarta, tapi tiga tahun menjalani kehidupan di kampung, menjadi lebih mantap dan yakin untuk memutuskan tidak akan kembali ke Jakarta lagi.

Hari-harinya dihabiskan di kampung. Sibuk bertani. Bercocok tanam; mengurus sawah dan kebun. Hasilnya melimpah ruah. Belum lagi, rumahnya dibuat tempat jualan; kamar depan dijadikan warung kecil. Keuangannya diputar terus, sehingga tidak berkurang.

Di samping mengelola di atas, dipercaya juga untuk memegang kas mushola. Beban yang tidak mudah. Namun, semuanya dipegang dengan baik.

Nenek dan kakek sekian lama menikah, belum diberi keturunan juga. Untung ada keponakan yang dianggap anak sendiri. Sehingga, tidak pernah sepi hari-harinya. Semua berjalan normal pada umumnya. 

Keponakan yang diurus dari kecil sudah beranjak dewasa, dan berumahtangga dengan lelaki pilihannya. Tinggalnya ikut suami juga. Akhirnya, kini nenek dan kakek tinggal berdua saja di rumahnya. Kadang kalau lebaran atau sesekali waktu keponakan bareng suami dan anak2nya datang menjenguk.

Kini, masih tetap jualan (buka warung) dan mengurus mushola. Ke sawah dan ladang juga sudah tidak. Seringnya nyuruh orang saja. Ngasih upah atau bagi dua.

Rumah yang ditinggali amat besar. Rumah sebesar itu begitu terawat dan terjaga. Segala sisi dan sudut bersih. Dari depan halaman hingga bagian belakang tertata rapi. Salut dan hebatnya bukan main. Kami yang masih muda saja kalah.

Jika ada penilaian atau adu kebersihan, rumah kakek dan nenek ini pantas menyabet juaranya.

___

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bandingkan